Jumat, 19 Februari 2010

Resensi " Sang Pemimpi "

Fiksi Sang Pemimpi yang Inspiratif

Oleh: Syaifudin


Sejatihnya pendidikan merupakan hak semua orang. Di mana kita ketahui pendidikan menjadi salah satu media mobilitas kehidupan manusia. Kausalitas inilah yang mendorong seseorang untuk mengeyam pendidikan. Namun dalam sisi lain tak akan ada habisnya untuk membicarakan permasalahan dunia pendidikan, khususnya di Indonesia yang begitu kompleks dengan masalah pendidikan. Dari kualitas pendidik yang masih diragukan sampai kurikulum yang selalu berubah-ubah dari tahun 1968 sampai yang terakhir yaitu KTSP.
Selain itu, mahalnya biaya pendidikan membuat pola kesenjangan sosial menjadi kulminasi dari kompleksitas permasalahan wajah dunia pendidikan di Indonesia. Gejala-gejala sosial dari dampak itu pun, kini menjadi sorotan yang faktual di beberapa media massa. Dari seorang ibu yang memelacurkan diri demi membayar biaya sekolah anaknya sampai ada seorang anak yang bunuh diri karena malu sebab orang tuanya tidak sanggup membayar biaya sekolahnya.
Ironis sekali, di mana seharusnya pendidikan adalah hak setiap rakyat Indonesia, khususnya rakyat miskin. Tetapi kenyataannya tidak semua dari mereka dapat mengakses hak mereka. Hal ini berkontradiktif dengan amanah yang tercantum didalam UUD 1945 mengenai Hak setiap rakyat dalam mendapatkan pendidikan. Ini berarti pemerintah telah melanggar Hak Asasi Manusia dalam mendapatkan pendidikan.

Memanifestasikan mimpi melalui pantang menyerah dan ketulusan “ Sang Pemimpi “
Berdasarkan prolog singkat di atas, ternyata hal ini menjadi inspirasi bagi Andrea Hirata dalam menulis sebuah buku yang inspiratif. Mengenai sebuah mimpi dan harapan dari anak negeri tentang perjuangan hidup melalui pendidikan. Ya, buku yang sangat menginspirasi ini diberi judul "Sang Pemimpi". Sesuai judulnya, buku ini memang menceritakan catatan perjalanan para perajut mimpi dari tanah Belitong. Kita ketahui buku Sang Pemimpi merupakan buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Menurut Ical nama panggilan Andrea Hirata, buku Sang Pemimpi ini menyiratkan sisi inspiratif edukatif. Hal inilah yang ingin disajikan Ical kepada para pembaca karyanya.
Agar kisah tidak monoton Ical memberikan balutan kisah asmara yang cukup menghibur dan kisah motivasi yang diperankan oleh sosok Arai yang pantang menyerah. Sementara kisah humor dihadirkan dalam sosok Jimbron yang lemah, lugu, unik dan penuh solidaritas. Sedangkan untuk tokoh utama kisah Sang Pemimpi ini yaitu Ikal. Dalam diri Ikal digambarkan sosok karakter yang manusiawi, pemuda yang berusaha untuk survive dan pantang menyerah serta jiwa sosial yang tinggi. Hal ini dimanivestasikan dalam tindakan Ikal yang senang membantu teman-temannya.
Melalui novelnya ini, Ical mendeskripsikan sebuah kontruksi sosial pendidikan yang pantang menyerah. Novel ini menisbikan keterbatasan diri dalam menggapai mimpi melalui pendidikan. Di mana dalam dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, semua itu perlu usaha keras dan ketulusan hati. Hal ini digambarkan pada setiap alur cerita kehidupan para tokoh dalam novel ini.
Misalnya saja ucapan ambisius yang dikatakan oleh Ikal “ cita-cita kami adalah kami ingin sekolah ke Prancis! Ingin menginjakan kaki di altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajah Eropa sampai ke Afrika. Walaupun mengingat keadaan kami yang amat terbatas..” atau ucapan Arai kepada Ikal"..mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi di sini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!".
Sepenggal kutipan tersebut memberi sebuah sugesti optimisme atas segala kekurangan, kelemahan, dan keraguan yang secara naluriah membunuh anak manusia yang meretas cita-cita. Sepenggal kalimat inspiratif bagi kalangan pelajar, mahasiswa dan generasi bangsa yang terasing di persimpangan jalan dalam menggapai impian dan masa depan. Di sini Ikal, Arai dan Jimbron dengan segala kekurangannya mampu bertahan dalam keteguhannya dan tidak mengenal menyerah dalam menjalani kerikil kehidupan. Inilah yang ingin dikontruksi Ical dalam buku keduanya tersebut.
Korelasi Sang Pemimpi yang dirajut Ical dalam sebuah kalimat tidak hanya mencoba mengantarkan kita untuk mengenal tanah Belitong. Tetapi juga memahami sebuah kisah kehidupan anak melayu pulau yang memaknai kesengsaraan dalam meraih mimpi-mimpinya. Secara implisit kisah ini menceritakan perjuangan anak manusia dalam mengeyam pendidikan. Di mana kita ketahui dengan keterbatasan ekonomi yang diperankan tokoh, membuat akses mereka dalam mengeyam pendidikan agak sedikit menghadapi hambatan. Namun berkat keyakinan dan perjuangan yang keras, akhirnya mereka dapat meraih mimpi untuk dapat belajar sampai perguruan tinggi.
Jika kita membahasakan cerita ini dalam kehidupan nyata kita di jaman sekarang ini. Memang pendidikan teramat sulit di akses bagi mereka yang mengalami kendala dalam hal biaya. Apalagi biaya pendidikan sekarang ini melambung tinggi. Stratifikasi sekolah menjadi simbol dari status sosial yang kadang diskriminatif. Melalui cerita Sang pemimpi inilah Ical mendeskripsikan dunia pendidikan kita yang kini telah berasimilasi dengan dunia kapitalisme. Pendidikan yang sejatihnya tidak bermata kini bermata. Sehingga pendidikan kini memilih orang yang bisa menyenangkan dirinya melalui tingkat kemampuan membayar. Tragis.
Sang pemimpi ditulis dengan sudut pandang yang variatif. Sehingga pembaca dapat bersatu padu berimajinasi dalam dunia buku ini. Di mana kesan humor sampai nilai filosofis menjadi tali pengikat emosional pembaca yang kemudian diresonansikan. Sang pemimpi lahir sebagai sebuah refleksi dari perjuangan hidup manusia yang terbelit kemiskinan dan cita-cita yang gagah berani.

Optimisme dan kesederhanaan dibalik tokoh “ Sang Pemimpi “
Kehidupan tidak terlepas dari rutinitas masalah yang menghadang. Sejatihnya pemenang adalah orang yang bisa memenangkan pertarungan hati untuk mengalahkan segala hasrat egoisme. Di sinilah Ical ingin menyampaikan dalam bahasa satra yang indah melalui sebuah alur cerita yang inspiratif. Sang Pemimpi yang dikisahkan Ical dalam rajutan kalimat sastra nan indah, memang sangat menyentuh nilai-nilai kehidupan.
Sosok peran yang dikisahkan dalam buku Sang Pemimpi ini mencoba mengantarkan pembaca kepada alam pikir penulis. Misalnya saja Arai, dia digambarkan sebagai sosok seniman kehidupan yang pandai membuat momen-momen terindah untuk dipersembahkan bagi kehidupan yang penuh misteri ini. Di mana dengan bijak, Arai nekat memecah celengan, melesat menerobos pasar dengan sepeda untuk membeli sekarung gandum untuk dipersembahkan kepada Maryamah yang kekurangan beras demi keperluan sehari-harinya. Baik hati sekali Arai.
Ada cerita haru lagi dari rangkaian cerita Sang Pemimpi. Di mana saat Arai melihat Jimbron yang menderita gejala obsesif-impulsif pada seekor kuda. Maka dengan sifat solidaritasnya Arai berhasil mempersembahkan kuda putih Pangeran Raja Brana ke hadapan Jimbron yang senang kuda. Sebaliknya Jimbron yang gagap dan selalu dapat urutan ranking di atas angka 100, justru mempersembahkan 2 celengan kuda sumbawa dan kuda sandel untuk kedua sahabatnya yang dia menganggap lebih punya banyak kesempatan untuk menimba ilmu diluar pulau Belitong. ”Kalian lebih pintar, lebih punya kesempatan untuk sekolah lagi, kalian berangkat saja ke Jawa. Pakailah uang itu, kejarlah cita-cita……..”. Ucapan Jimbron sangat mengharukan dan menembus nilai-nilai suci sebuah persahabatan yang tulus ikhlas. Hingga membuat pembaca terjun dari nilai individualitas ke jurang egaliter persahabatan. Berkat ketulusan Jimbron, akhirnya Arai dan Ikal berhasil mewujudkan mimpi untuk belajar di Universitas Sorbonne Perancis, dan keliling Eropa hingga Afrika.
Sang Pemimpi tidak hanya mencoba mengantarkan kita pada dunia humoritas yang melankolis belaka dan kisah cinta yang puitis. Tetapi juga mendalami makna keterbatasan yang dapat menembus dunia harapan yang ilusinatif menjadi nyata. Ya, Sang Pemimpi kisah perjuangan hidup anak manusia dalam menggapai harapan ditengah keterbatan hidup.
Dimensi kemanusiaan “ Sang Pemimpi “
Sang Pemimpi mencoba mengajak pembaca pada sebuah dimensi kemanusiaan dan kesederhanaan. Hal ini dibuktikan saat bertemu langsung dengan sang penulis Andrea Hirata pada acara diskusi bukunya dengan tema “ Mengarungi Mimpi Bersama Laskar Pelangi ”. Bertempat di Toko Buku Gramedia Matraman, terlihat sang inspirator dan motivator serta seniman kalimat ini mencitrakan sosok yang amat sangat sederhana, pendiam, santun, bahkan cenderung introvert. Di sela-sela pembicaraan, Ical semakin khawatir, kalau-kalau dia tak kuasa terseret popularitas bak selebriti, dan hanyut oleh arus besar yang bernama ”pasar.” Di mana nantinya seniman kata-kata itu tak lagi bisa melahirkan gurindam mimpi-mimpi anak-anak Balitong.
Dipertemuan yang singkat itu, Ical mengungkapkan kesenangannya terhadap karyanya yang dinilai inspiratif. Namun Ical akan berhenti menulis apabila ternyata karyanya itu terlalu dipuja. Sebab, dasar Ical menulis bukanlah mengejar ketenaran tetapi lebih memaknai nilai-nilai filosofis dan kemanusiaan dalam setiap karyanya. Maka tidak heran, sebagian hasil royalti yang didapat dari hasil penjualan bukunya disumbangkan untuk kegiatan sosial. Di sini terlihat nilai-nilai kemanusian dan kesederhanaan yang ada dalam diri penulis Sang Pemimpi yang diimajinasikan dalam setiap karya sastranya.
Dibalik sosok karakter penulis, Sang Pemimpi buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi ini ingin mengangkat sebuah kesucian nilai persahabatan sebagai anugerah terindah dalam hidup, dan tentu saja itu adalah mimpi Ikal, Arai dan Jimbron sebagai anak-anak asuhan alam yang merindukan kebebasan dari belenggu hidup yang semakin berat di pulau Belitong.
Kalimat yang membius dari “ Sang Pemimpi “
Sang Pemimpi yang fiksi ternyata mampu menjadi sastra yang terasa hidup. Kalimat-kalimat metafor terasa membius emosional pembaca untuk dapat memahami alur cerita dan refleksi diri terhadap esensi nilai kemanusiaan dan keadilan. Hal ini tidak terlepas dari ketulusan penulis dalam menggoreskan pikiran imajinatif inspiratifnya dalam buku Sang Pemimpi. Kemampuan Ical dalam merangkai kalimat tidak diragukan lagi. Sehingga kalimat yang ada dalam buku ini asyik untuk dibaca dan penuh inspiratif kalimat.
Selain itu, penganalogian yang digunakan Ical dalam Sang Pemimpi sangat menarik. Misalnya pembicaraan masalah orang yang tersambar petir, Ical menganalogikan dalam kalimat “..dan di atas daun kelapa itulah sang korban dipanggang seperti barbeque..” atau kabar tentang seorang pencari nira yang tersambar petir yang kemudian kabar itu didengar oleh Jimbron, “..tubuh Jimbron mendadak sontak menjadi kayu..”. Penganalogian yang menarik ditulis oleh Ical dalam novelnya tersebut.
Ical terasa bebas dalam merangkai kata demi kata, tidak terpenjara oleh diksi. Hal ini juga yang dilakukan oleh Sutarji Chalzoum Bachri dalam setiap karyanya. Di mana seorang penulis sastra harus mampu keluar dari belenggu diksi-diksi yang terkadang indah namun justru tidak bermakna. Meramu kata demi kata hingga menjadi kalimat yang bermakna tidaklah mudah. Namun hal itu tidak terjadi pada Ical. Melalui Sang Pemimpi, Ical membuktikan kemahirannya sebagai maestro sastra yang pandai meramu kata. Dengan efek analogi bahasa yang bermakna membuat Sang Pemimpi menjadi karya sastra inspiratif.

Komparasi Sang Pemimpi sebagai kisah lanjutan dari Laskar Pelangi
Sang Pemimpi lahir sebagai lanjutan kisah dari buku pertama Hirata yaitu Laskar Pelangi. Di mana cerita ini dimulai pada sebuah desa kecil yaitu desa Gantung, Kabupaten Gantung, Belitong Timur. Awal cerita ini dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh pemerintah setempat jika tidak mendapatkan siswa minimal 10 orang. Pada saat kepala sekolah ingin memberikan pidato pembubaran sekolah karena sekolah itu hanya mendapatkan 9 orang murid, tiba-tiba ada seorang anak lagi yang bernama Harun yang mendaftarkan diri disekolah tersebut.
Mulai dari sanalah mereka semua berteman akrab. Dari mulai penempatan tempat duduk, bertemu dengan pak Harfan, perkenalan mereka dengan A Kiong, dan masih banyak lagi cerita yang lainnya. Laskar pelangi adalah nama yang diberikan oleh Bu Muslimah yang terinspirasi dari kesenangan mereka dengan pelangi. Laskar pelangi juga sempat mengharumkan nama sekolah mereka dengan berbagai cara salah satunya adalah pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokan teman-temannya karna menyukai okultisme, tapi pada saat ada lomba karnaval 17 agustusan ia membuat kemenangan manis karna menyukai okultisme. Lalu kejeniusan Lintang yang memenangkan lomba cerdas cermat. Kisah sepuluh kawan ini berakhir dengan kematian ayahnya Lintang. Hingga akhirnya Lintang putus sekolah karena sudah tidak ada lagi orang tuanya yang membiayai sekolah Lintang dan Lintang memilih untuk bekerja demi menghidupi adik-adiknya.
Buku Laskar Pelangi ini sangat menarik untuk dibaca oleh semua kalangan baik muda, tua ataupun anak-anak. Buku yang mengkisahkan semangat untuk menuntun ilmu ini sangat memotifasi bagi pembaca. Sebab kerja keras untuk menjadi pandai walaupun mereka bersekolah disekolah miskin dan serba kekurangan yang dilakukan oleh para tokoh dalam cerita ini sangat inspiratif. Hal inilah yang ingin disampaikan juga oleh Hirata dalam buku keduanya Sang Pemimpi. Sebuah kisah yang bernilai hiburan dan edukatif melalui penggambaran alur cerita yang diperankan oleh para tokoh yang memiliki karakter berbeda satu sama lain. Sang Pemimpi novel yang menggugah perjuangan hidup manusia dari segala keterbatasan. Berawal dari mimpi yang kemudian dengan usaha kerja keras hingga akhirnya dapat mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.



Kamis, 04 Februari 2010

Sterilitas Budaya Ilmiah Di Kalangan Mahasiswa

Eksploitasi dan Simulakra Manusia dalam Televisi

Oleh : Syaifudin


Dunia pertelevisian di Indonesia semakin berkembang. Hal ini ditandai dengan munculnya jumlah stasiun penyiaran televisi yang semakin banyak. Hampir lebih sepuluh stasiun televisi berdiri, antara lain: TVRI, RCTI, SCTV, INDOSIAR, TPI, ANTV, TRANS TV, TRANS 7, METRO TV, TV ONE, JAK TV, DA’I TV dan stasiun televisi lokal lainnya. Seiring dengan pertumbuhan tersebut, berarti semakin kompetitifnya stasiun penyiaran tersebut di dalam pengelolaan siarannya. Pengelolaan siaran di dalam dunia pertelevisian berarti membicarakan program acara dan programingnya, atau isi dan format acara siarannya dengan cara menempatkan acara tersebut. Hal ini berarti kompetisi diantara stasiun televisi adalah pada pemilihan program acaranya dan strategi penayangannya.
Televisi pun akhirnya menyajikan berbagai macam program tayangan sesuai dengan tingkat popularitas pasar. Tayangan inilah yang menjadi aset dari keberlangsungan eksistensi stasiun televisi itu. Dari tayangan humor, acara mistis, olahraga, berita, sinetron, film miniseri, realiti show, sampai acara gosip pun disajikan dalam setiap program televisi. Proses penayangan program ini pun menjadi sebuah media imitasi bagi masyarakat. Program televisi yang masyarakat tonton ternyata mempunyai pengaruh bagi sikap dan pola pikir masyarakat. Padahal apa yang ditonton sebenarnya itu merupakan sebuah simulasi realitas. Dalam analisis Baudrillard, mengatakan proses tersebut seperti sebuah simulakra. Jika dikaitkan dalam tayangan televisi, bagi penulis apa yang ditayangkan oleh televisi merupakan realitas yang diceritakan, dipresentasikan, dan disebarluaskan, tetapi juga direkayasa, dibuat dan disimulasikan. Simulasi ini mengaburkan dan mengikis perbedaan antara yang nyata dengan imajiner, anatara yang benar dengan yang palsu. Proses simulasi inilah yang mendorong lahirnya term”hiperealitas”, di mana tidak ada lagi yang lebih realitis sebab yang nyata tidak lagi menjadi rujukan.
Sedangkan bagi Bourdieu semua itu paradoks, di mana televisi dapat menyembunyikan dengan mempertunjukannya, yaitu televisi menyembunyikan sesuatu dengan mempertunjukan sesuatu yang tidak lain dari apa yang ditunjukan. Jika televisi telah melakukan apa yang harus dilakukan dengan memberikan informasi atau mempertunjukan apa yang harus dipertunjukan, tapi dalam cara tertentu yang sesungguhnya tidak dipertunjukan atau dibelokan dalam sesuatu yang tidak penting, atau dengan mengkonstruksikannya dalam cara tertentu yang hal tersebut mengambil makna yang sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan kenyataan.
Berdasarkan simulasi realita itu, program televisi yang ada seperti tayangan sinetron memberi efek pencitraan bagi manusia. Tentu kita ingat tayangan sinetron “Cinta Fitri” yang ditayangkan oleh SCTV. Karena ratingnya begitu bagus dan memiliki pangsa pasar konsumen yang begitu beragam, akhirnya tayangan itu pun diproduksi terus hingga sampai jilid ketiga yaitu “ Cinta Fitri 3”. Dari tayangan itu, ternyata memberikan efek dramatis hidup manusia, hingga akhirnya disimulasikan oleh masyarakat secara melankolis. Dalam hal ini Marshall McLuhan dan Quentin mengatakan, bahwa di dalam televisi, citra diproyeksikan pada manusia. Manusia adalah layar televisi itu dan citra-citra itu kemudian membungkus manusia. Dalam perspektif teori kritis, hal ini merupakan bentuk pembodohan manusia melalui simulasi media.

Ekpolitasi Kehidupan Manusia dalam Tayangan Gosip di Televisi
Secara sosiologis interaksi manusia dibangun oleh komunikasi antar manusia. Dalam kajian Sosiologi Komunikasi, Onong Uchyana mengatakan, komunikasi sebagai proses pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran, atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain. Pikiran ini dapat berupa gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya.
Berangkat dari hal itu, secara filosofi manusia memiliki hasrat keingintahuan yang besar. Keingintahuan itulah yang kemudian menjadi diskursus dalam interaksi di masyarakat atau biasa disebut dengan istilah “ gosip “. Akibat kuatnya budaya gosip yang ada di masyarakat, membuka peluang bagi stasiun televisi untuk menjadikan subjek komoditi bagi stasiun televisi itu. Tak kurang dari puluhan program gosip direproduksi oleh televisi demi melanggengkan eksistensi stasiun televisi tersebut. Dalam bahasa Marx, ini merupakan bentuk eksploitasi. Eksploitasi di sini berupa privasi kehidupan manusia yang dinarasikan dalam sebuah tayangan gosip.
Di sinilah penulis mencoba menganalis tayangan televisi yang disajikan oleh beberapa stasiun televisi. Misalnya saja SCTV dengan produk gosipnya seperti Was-was, Hallo Selebriti, dan Kasak-Kusuk. Sedangkan Indosiar mereproduksi tayangan ini seperti : Kiss Vaganza, dan Kiss Sore. Bagi penulis tayangan gosip ini merupakan sebuah pembodohan tersistematis dari para kapitalis. Di mana manusia (artis) dieksploitasi kehidupannya oleh media. Kemudian didistribusikan hingga menjadi konsumsi oleh publik. Padahal dibalik tayangan ini ternyata ada keuntungan yang ingin dicari dari para kapitalis televisi. Untuk itu konsep “Aletheia” yang digunakan oleh Heidegger bisa menjadi pisau analisis dari konsep fenomenologi yang menjelaskan segala bentuk penyingkapan sekaligus penyelubungan yang ada pada tayangan gosip di televisi.
Secara harfiah tayangan gosip merupakan bentuk reproduksi realita manusia yang dieksploitasi oleh media televisi. Tayangan ini pun tidak mempunyai kategori yang jelas dari fungsi televisi itu sendiri. Jika dikategorikan berita ini bukan bentuk sebuah berita ala jurnalistik, sebab dalam pemberitaan jurnalistik ada kode etik yang menyebutkan bahwa tidak ada bentuk pemberitaan yang berkaitan dengan kehidupan pribadi atau privasi seseorang. Sedangkan dari segi edukasi dan informasi ini justru menjadi sebuah penyimpangan ekstrim dari filosofi kedua fungsi itu. Sebab tayangan gosip tentu tidak memiliki unsur edukasi bagi masyarakat, justru sebaliknya ini merupakan pembodohan dan aib bagi sesorang yang digosipkan itu. Apabila dikaitkan dengan Hak Asasi Manusia ini merupakan bentuk pelanggaran hak hidup manusia.
Berdasarkan pemaparan di atas, menurut penulis logika pasar sepertinya membuat kapitalis tidak mementingkan masalah HAM. Karena baginya, apa pun bisa menjadi subjek keuntungan, termasuk privasi hidup manusia (artis). Jika hal ini dibiarkan menjadi fertilitas budaya, maka tidak menutup kemungkinan eksploitasi kehidupan manusia akan terus berkembang menjadi sebuah komoditi massal bagi para kapitalis media. Sepertinya eksploitasi kehidupan manusia dalam tayangan gosip akan terus menjadi bola salju. Dan masyarakat akan menjadi sasaran empuk oleh kapitalis media dalam rupa eksploitasi yang dinarasikan secara visual.


Jumat, 29 Januari 2010

Humanisasi Demonstrasi Ditengah Dehumanisasi

Humanisasi Demonstrasi Ditengah Dehumanisasi
Oleh : Syaifudin

Demonstrasi sebelum tahun 1974 memang menjadi trend pada masa itu. Salah satunya gerakan mahasiswa 1966, yang akhirnya menumbangkan rezim orde lama atau kepemimpinan Presiden Soekarno. Iklim demonstrasi itu kemudian mulai redup semenjak tahun 1974 yang ditandai transisi pergantian kekuasaan dari orde lama ke orde baru, yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Semua orang tiarap cari selamat. Melawan berarti penjara, bahkan kematian. Kalaupun melakukan perlawanan atau demonstrasi itu hanya dilakukan secara diam-diam. 

Namun aksi demonstrasi itu mulai terlihat taringnya kembali sejak era reformasi dikumandangkan pada pertengahan tahun 1997 yang menggulingkan rezim orde baru. Demonstrasi itu bangkit kembali sebagai perlawanan atas otoriter kekuasaan Presiden Soeharto yang semakin memperburuk perekonomian Indonesia.

Sejak saat itu demonstrasi massa marak kembali dimana-mana, hingga hari ini. Demonstrasi kini menjadi simbol kebebasan berekspresi di Indonesia dalam konteks negara demokrasi. Jika dikaitkan dengan perhatian Max Weber yang utama, bahwa demonstrasi merupakan landasan keteraturan sosial yang absah. Ini berarti bahwa demonstrasi dalam keteraturan sosial dan pola-pola dominasi yang berhubungan dengan itu, diterima sebagai yang baik oleh mereka yang tunduk pada dominasi maupun yang dominan. 

Demonstrasi memang hak semua orang dalam negara demokrasi ini. Sepertinya deifikasi demonstrasi memang menjadi suatu keharusan dalam masyarakat yang memiliki ideologi negara demokrasi.Walaupun sebenarnya negara demokrasi tidak selalu di indentikkan dengan demonstrasi.

Popularitas Demonstrasi
Demonstrasi lantas menjadi semacam trend baru, yang menjadi produk demokrasi di negeri ini. Akhirnya demonstrasi sudah menjadi hal yang rutin, bahkan kini demonstrasi sudah menjadi kegiatan bayaran yang menjadi sumber mata pencarian segelintir orang. Dimana pendemo bayaran ini diatur oleh organisasi-organisasi tertentu atau oknum yang memiliki kepentingan politis.

Era reformasi, kehidupan politik indonesia memang selalu diwarnai aksi demonstrasi. Baik mahasiswa, buruh, guru, petani, pejabat, sampai siswa SD pun melakukan demonstrasi. Dari media cetak sampai elektronik, kata demonstrasi selalu menjadi komoditi berita yang paling favorit bagi media tersebut. Demonstrasi sepertinya mengalahkan popularitas para artis di Indonesia. Sebab dari orang tua sampai anak kecil mengenal kata demonstrasi, dari epistemologi sampai wujud demonstrasi itu sendiri.

Demonstrasi menjadi idola bagi umat manusia, khususnya di Indonesia. Pengidolaan itu kemudian diwujudkan dalam proses imitasi dalam bentuk aksi demonstrasi. Yang jelas selama proses imitasi itu, demonstrasi harus dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan.

Degradasi aktualisasi demonstrasi
Akan tetapi demonstrasi sudah mulai kehilangan jati dirinya sebagai bahasa keadilan dan kemanusiaan. Demonstrasi kini sudah kebablasan dari nilai yang ada. Semua yang berbau demonstrasi selalu dibahasakan dalam bahasa kekerasan. Setiap aksi demonstrasi akan selalu meninggalkan jejak-jejak kekerasan dan kerusakan, baik fasilitas pribadi maupun publik.

Degradasi aktualisasi demonstrasi itu selalu kita saksikan dalam ruang media elekronik maupun cetak. Bahkan media ruang pengalaman hidup secara langsung. Salah satu contoh dari beberapa catatan kelam degradasi itu, yakni kasus kematian ketua DPRD Sumatera Utara, H.Abdul Azis Angkat beberapa hari lalu. Dimana para pendemo semakin brutal dalam melakukan aksi demonstrasi yang berujung kematian dan kerusakan fasilitas publik itu. 

Ironis, aktualisasi demonstrasi kini harus meninggalkan tumbal. Entah itu kematian nyawa manusia ataupun kerusakan fasilitas. Menurut Erich Fromm, masyarakat modern yang mengalami alienasi mendukung tumbuh dan berkembangnya kekerasan. Keterasingan itu yang menghilangkan kepekaan nilai-nilai kemanusiaan yang ada di dalam diri manusia.

Humanisasi Demonstrasi
Apakah sejarah perubahan yang melalui pintu demonstrasi harus meninggalkan rekam jejak yang dehumanisasi?. Walaupun dalam sejarahnya aktualisasi demonstrasi selalu diwarnai pertumpahan darah. Bertolak dari pernyataan tersebut, Freud mengatakan bahwa dalam diri manusia itu ada sifat dan keinginan jahat. Dan bagi Rousseau sifat jahat itu akan berkembang bila dipengarui oleh masyarakat pula. Sedangkan bagi Hegel, masyarakat luas akan mengalami kekacaubalauan karena manusia hanya memuaskan egoismenya sendiri.

Namun bahasa kekerasan itu sebenarnya tidak harus selalu dibahasakan dalam setiap aksi demonstrasi. Lebih daripada itu, demonstrasi harus dibahasakan dalam bahasa kemanusiaan yang lebih arif dan bijaksana. Sebab pada dasarnya, penulis yakin dalam diri manusia itu memiliki nilai kemanusiaan yang lebih besar kapasitasnya daripada nilai jahat yang ada didalam diri manusia. 

Untuk itu aktualisasi demonstrasi harus berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki. Tidak boleh direduksi diluar pemaknaan kemanusiaan itu sendiri. Sebab bangsa ini adalah bangsa yang beradab, bukan bangsa Balkan apalagi Bar-bar. Alangkah indah bila demonstrasi dibahasakan dalam bahasa yang arif dan bijak, tentunya dalam koridor negara demokrasi.

Refleksi Kebangsaan

Refleksi Kebangsaan

Oleh : Syaifudin

Tahun 2009 merupakan tahun di mana nuansa politik begitu memanas. Perhelatan demokrasi (baca:Pemilu) sampai terbongkarnya kasus konspirasi elite dalam balutan skandal korupsi menjadi warna dari kompleksitas permalahan bangsa. Indonesia pun berduka, anak-anak bangsanya yang pernah mencatat tinta emas kini telah tiada, seperti WS.Rendra dan Gusdur.

Berbagai macam bencana alam pun menghiasi roda kehidupan bangsa ini. Teriakan dan tangisan pilu terasa menjadi irama sumbang dari perjalanan bangsa yang sedang kehilangan jati diri. Rakyat kini mulai sadar atas haknya sebagai warga negara.Di mana keadilan dan hukum yang dulu hanya dimiliki oleh orang yang memiliki kuasa sekarang harus mengatakan kejujuran yang sebenarnya tanpa berpihak walaupun ini belum maksimal.

Kini Indonesia sudah berganti tahun yakni 2010. Kenangan-kenangan, baik suka maupun duka telah dilewati. Fenomena ramalan futurolog disetiap pergantian tahun terkadang menjadi sebuah sugesti bahkan motivasi. Namun pembenaran itu tinggal bagaimana kita menanggapi semua itu.
Momentum pergantian tahun sekiranya menjadi evaluasi bangsa dalam menyikapi permasalahan yang ada pada tahun lalu. Renungi, sadari dan lakukan yang lebih baik lagi untuk tahun depan. Waktu yang sudah berlalu takkan bisa kembali, itu sebabnya “ Time is more important than money ” daripada sekedar “ Time is money “.

Bangsa ini harus mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan ke depan. Jangan menyesali apa yang sudah terjadi bila itu adalah hal buruk, manusia tak punya kuasa untuk memutar balik waktu. Yang penting adalah apa yang akan kita lakukan ke depannya. Brian Tracy, dalam bukunya “ Change Your Thinking Change Your Life ” mengatakan: Di dalam hidup manusia terdapat dua periode waktu, yaitu masa lalu dan masa depan. Dan masa kini hanyalah sebuah momentum pendek yang nantinya akan segera berlalu. Oleh karena itu, bangsa ini dapat memilih apakah ingin memfokuskan perhatian pada apa yang telah terjadi – sesuatu yang tidak dapat dirubah; atau pada masa depan bangsa ini – pada segala kemungkinan, dan pada keadaan-keadaan yang di dalamnya bangsa ini memiliki kendali untuk merubahnya.

Yang pasti dengan dibukanya kran pasar bebas, maka bangsa ini akan menghadapi tantangan yang lebih berat lagi. Berbenah diri dan meningkatkan kualitas produktivitas bangsa. Jika hal ini tidak dilakukan ditambah lagi elite politik yang tidak berpihak pada rakyat, maka tragedi kemiskinan, kesengsaraan, dan kriminalitas akan menjadi sebuah “ sad ending “ dari perjalanan bangsa pada tahun 2010 bahkan dapat lebih parah dari tahun 2009. Untuk itulah, bangsa ini harus bersiap diri dengan semangat dan optimisme yang berlandaskan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rabu, 23 Desember 2009

Catatan kecil: Ibn Khaldun dan Ilmu Pengetahuan

Catatan kecil: Ibn Khaldun dan Ilmu Pengetahuan

 Oleh: Syaifudin

Ibn Khaldun adalah seorang sarjana terkenal dengan karyanya yang bernama Muqaddimah pada abad ke 14 M. Cakupan pembahasan Muqaddimah Ibn Khaldun demikian luas, sehingga penulis membatasi pembahasan ini hanya dalam masalah pemikiran sosialnya. Ternyata pada abad ke 19 M. terdapat pula pemikiran Barat dari Perancis bernama Auguste Comte yang membahas masalah pemikiran sosial. Sekarang ilmu pengetahuan ini menjadi ilmu tersendiri yang dinamakan sosiologi.

Dengan adanya pemikiran-pemikiran di bidang pengetahuan sosial ini, ada yang mengatakan bahwa pelopor ilmu pengetahuan sosial adalah Auguste Comte dan ada pula yang mengatakan Ibn Khaldun. Di dalam Muqaddimah, Ibn Khaldun membahas pemikiran sosialnya bertitik tolak dari pengalaman, gejala-gejala dan fakta fakta yang diamati, kumpulan fakta-_fakta itu dianalisis dan akhirnya diambil kesimpulan dan dijadikan rumus atau dalil. Ibn Khaldun juga membahas perbedaan antara ilmu pengetahuan absah dan ilmu pengetahuan yang tidak absah.

Menurutnya ilmu pengetahuan yang absah ialah apabila didasarkan pada eksperimen dan empiris, kemudian setelah dianalisis dan disimpulkan baru dijadikan hukum. Sedangkan ilmu pengetahuan yang tidak absah ialah yang hanya berdasarkan kesimpulan akal. Pendapat Ibn Khaldun tersebut ada kesamaan dengan pendapat filosof Jerman Immanuel Kant pada abad ke 19 M yang menyelidiki batas-batas kemampuan akal manusia, Immanuel Kant berpendapat, bahwa di dalam etika ada yang tidak bisa diselidiki oleh akal, yaitu kebebasan kehendak, immortalita jiwa dan adanya Tuhan. 

Menurut Immanuel Kant, kita harus menerimanya sebagai keyakinan, dan dijadikan postulat dalam etika. Menurut Ibn Khaldun, akal manusia tidak bisa menyelidiki hakikat yang tidak bisa diindra, seperti masalah hakikat Tuhan, hakikat kenabian, kehidupan akhirat dan sebab paling akhir dari sebab-sebab. Untuk hal-hal tersebut, kita harus menerima dari ajaran-ajaran agama. SeteIah dilakukan kajian sesuai dengan pengertian kriteria ilmu dan filsafat, maka ternyata pemikiran sosial Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan dalam pengertian modern. Hal ini berdasarkan pada kriteria ilmu pengetahuan, yaitu: adanya pengamatan indra, pengumpulan fakta-fakta, deskripsi fakta, pemilhan kajian, analisis kritis, kesimpulan dan perumusan. Dengan demikian Ibn Khaldun merupakan pelopor pertama dalam bidang ilmu pengetahuan sosial atau sosiologi, dan bukan Auguste Comte. Auguste Comte adalah salah seorang penerus dalam bidang sosiologi.

 

Selasa, 15 Desember 2009

Film Dalam Bingkai Sosiologi

 Film Dalam Bingkai Sosiologi
Oleh : Syaifudin

Jika anda suka menonton film, maka siap-siaplah anda menyelam dalam bahasa bit-bit photogram…

Film sebagai bahasa audiovisual memiliki kaitan dalam hal kehidupan sosial masyarakat. Secara singkat film sendiri sudah ada pada tahun 1895 yang diperkenalkan oleh kakak-beradik Lumiere. Pada awal kelahiran film dimulai dari film bisu. Akan tetapi walaupun bisu tetap saja bahasa audiovisual ini mampu mensugesti masyarakat yang menontonnya. Film merupakan jendela dunia yang menjadi representasi atas realitas. Tanpa kita sadari sebenarnya film mempunyai kekuatan sihir dalam bahasa visualnya.

Di era 1990-an perfilman Indonesia diwarnai film-film panas. Di mana “film panas” yang dimaksud adalah film Indonesia yang mengangkat tema seksualitas dan birahi, dengan menampilkan adegan-adegan seks yang cukup eksplisit . Menurut JB. Kristanto ini sebagai film Indonesia pertama yang menonjolkan seks,perkosaan, dan dialog-dialog kasar. Alhasil pada perkembangannya film ini mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku masyarakat. Kemudian proses ini menjadi identitas budaya yang terbentuk pada masyarakat Indonesia.

Berdasarkan penjelasan di atas, maksud pembahasan dalam tulisan ini adalah pengaruh makna film yang terkandung dengan kehidupan masyarakat. Secara sosiologis pengaruh tayangan film ini memiliki dampak yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat, baik secara politik, sosial maupun budaya. Kita ketahui untuk film sendiri, baik film karya sineas Indonesia maupun luar negeri ternyata menjadi suatu kebutuhan yang diminati oleh masyarakat. Maka tidak heran film dalam perkembangannya terkadang menjadi alat ideologis yang digunakan untuk mempengaruhi masyarakat. Misalnya saja film pemberontakan G 30 S/PKI tentang pemusnahan ideologi komunis, Perempuan Berkalung Sorban dengan konsep feminisme, atau Naga Bonar Jadi 2 dengan dasar nasionalisme.

Jika kita tarik dalam kontekstual sosiologis, bahasa film jelas dapat mengikat masyarakat terhadap pesan implisit yang terkandung didalamnya. Misalnya saja, film “ Laskar Pelangi “ ternyata secara sosiologis membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap dunia pendidikan. Di mana fenomena ini ditandai dengan opini-opini di media cetak maupun elektronik bahkan aksi demo yang terkait pendidikan atas nama inspirasi film tersebut. Karena betapa besar kekuatan pengaruh film, maka kehadiran film “ 2012 “ yang baru-baru ini mengalami penolakan oleh beberapa kalangan, sebab ditakutkan film ini akan merusak akidah masyarakat. Padahal pada tahun 1990-an sudah pernah ada film serupa dengan judul `” The Day After “` yang menggambarkan kerusakan yang menyisakan beberapa orang untuk kehidupan baru dan film ini pun ditolak penayangannya.

Jika diuraikan secara teoritis, pengaruh film ini jelas mempunyai efek yang hebat bagi pencitraan pola pikir dan tindakan masyarakat melalui frame image dan efek visual. Ramon William mengungkapkan bahwa bahasa film itu implisit. Oleh sebab itu film merupakan komunikasi efektif bagi sebuah proses pembentukan pencitraan masyarakat. Sebab pada dasarnya film memiliki fungsi sebagai pengetahuan, informasi, hiburan dan pendidikan. Dan pada akhirnya pengaruh film ini ditentukan oleh seberapa besar penonton memaknainya.

Selasa, 10 November 2009

Gaya Hidup Masyarakat Jakarta Dalam Persfektif Pierre Bourdieu

Gaya Hidup Masyarakat Jakarta Dalam Persfektif Pierre Bourdieu

Oleh: Syaifudin

Struktur Sosial Masyarakat Jakarta
            Struktur sosial secara etimologis berarti susunan masyarakat. Secara definitif merupakan skema penempatan nilai-nilai sosial-budaya dan organ-organ masyarakat pada posisi yang dianggap sesuai, demi berfungsinya organisme masyarakat sebagai suatu keseluruhan, dan demi kepentingan masing-masing bagian. Artinya bahwa, setiap bagian yang ada pada struktur tersebut memiliki fungsi. Jika salah satu struktur tidak berfungsi, maka akan terjadi penyimpangan.
            Skema dibangun secara objektif, agar dapat mengenal posisi yang diberikan masyarakat kepada nilai-nilai sosial budaya, dan organ-organ atau komponen sosial yang menjadi milik masyarakat. Nilai-nilai sosial budaya terdiri dari ajaran agama, ideologi, dan kaidah-kaidah moral serta peraturan sopan santun. Organ masyarakat merupakan semua komponen yang bersama-sama mewujudkan masyarakat.
            Struktur masyarakat Indonesia terlebih Jakarta, ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik. Secara horizontal ditandai oleh kenyataanya adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan. Secara vertikal struktur masyarakat ditandai oleh adanya perbedaan vertikal antara lapisan atas dan bawah yang cukup tajam[1].
            Jakarta sebagai contohya, memiliki masyarakat multikultural yang menampakan keragaman dari berbagai aspek sosial budaya secara horizontal, seperti keragaman dalam tata cara kehidupan, bahasa yang digunakan, seni budaya yang dimiliki, maupun tradisi. Dalam berinteraksi masing-masing anggota masyarakat jika tidak ada rasa toleransi dan rasa simpati maupun empati akan dihadapkan pada gesekan-gesekan yang disebabkan adanya keragaman sosial-budaya tersebut yang cenderung dapat menimbulkan konflik horizontal. Sedang keragaman secara vertikal dapat dilihat bahwa pada masyarakat Jakarta cenderung terjadi polarisasi secara ekonomi yang semakin jelas. Sebagian anggota masyarakat yang kaya akan semakin kaya, ini ditandai dengan bertambah banyaknya barang-barang yang bersifat materi atau ekonomis, itu semua oleh sebagian anggota masyarakat dijadikan simbol-simbol status untuk lapisan sosial atas, sedangkan masyarakat miskin akan cenderung semakin miskin, hal ini ditandai mereka semakin tidak dapat mengakses fasilitas hidup dasar yang dibutuhkan, seperti rumah yang layak, pendidikan, maupun fasilitas kesehatan.
            Cara pandang, perilaku, gaya hidup, sikap dan nilai-nilai masing masing etnis dan entitas sosial yang berbeda memang dapat terlihat dengan jelas. Namun, perbedaan ini tidak ada dengan sendirinya. Identitas yang berbeda dikarenakan adanya ciri, karakter atau suatu yang khas dari entitas itu, yang tidak dimiliki oleh entitas lainnya.
 Ketidaksamaan identitas yang dalam bentuk praksisnya termanifestasikan melalui gaya hidup, dan perilaku umum yang dianut oleh suatu entitas tertentu inilah yang seringkali menimbulkan gesekan dengan gaya hidup atau perilaku dari entitas lainnya.Jika dilihat dari bentuk masyarakatnya, Jakarta merupakan bentuk masyarakat modern atau masyarakat organik. Dengan berbagai macam ciri-ciri, seperti menurut Emile Durkheim, yaitu:
a.  Keterkaitan struktur sosial lemah
b. Hukum restitutif
c. Nilai bersifat abstrak
d. Sifat ketergantungan tinggi
e. Muncul industrilisasi
f.  Lembaga-lembaga yang langsung menghukum.

Adapun beberapa ciri yang lain, seperti:
1.      Tindakan-tindakan sosial 
Dalam masyarakat modern, tindakan-tindakan sosial akan lebih banyak bersifat pilihan. Oleh karena itu, ciri masyarakat modern adalah kemampuan dan hak masyarakat untuk mengembangkan pilihan-pilihan dan mengambil tindakan berdasarkan pilihannya sendiri.

2.      Orientasi terhadap perubahan
Masyarakat modern adalah masyarakat yang senantiasa berubah cepat. Percepatannya didorong dan dipercepat oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.      Berkembangnya organisasi dan diferensiasi
Dalam masyarakat modern, organisasi berkembang, cakupannya makin luas dan makin rumit. Bersamaan dengan itu, berkembang spesialisasi.  Makin maju suatu masyarakat makin tajam spesialisasi yang diperlukan.
Dalam masyarakat modern, struktur sosial bersifat terbuka dan bersifat sukarela. Namun, apabila kita berbicara mengenai struktur sosial, ada ciri-ciri yang nyata dalam masyarakat modern, yaitu: (1) Sebagian besar anggota masyarakat berada pada lapisan menengah; lapisan atas dan bawah adalah minoritas. (2) Dalam masyarakat modern tidak tampak batas pemisah (diskontinuitas), tetapi stratanya lebih bersifat keberlanjutan. (3) Dalam masyarakat modern mobilitas sosial tinggi baik ke atas, maupun ke bawah. (4) Dalam masyarakat modern, pandangan keadilan, kesamaan hak dan kewajiban menjadi kesempatan yang sama bagi setiap orang.
           
Kapitalisme Dalam Pandangan Pierre Bourdieu
Secara etimologi, kapital berasal dari kata “capital”, yang akar katanya dari kata Latin, caput, berarti “kepala”. Sedangkan artinya dipahami, pada abad ke-12 dan ke-13, adalah dana, persediaan barang, sejumlah uang dan bunga uang pinjaman.[2] Kapital dapat dikatakan sebagai salah satu faktor untuk menentukan karakteristik seorang individu, hal ini dengan jelas menjadi salah satu cara untuk seseorang menunjukkan identitasnya. Kapital seringkali disebut dengan istilah modal.
Bila ditelusuri gagasan Marx, kapital dilihatnya sebagai bagian dari nilai surplus (surplus value/mehrwert) yang diperoleh kapitalis atau borjuis, yang mengontrol cara-cara produksi, dalam sirkulasi komoditas dan uang antara proses produksi dan konsumsi (Brewer, 1984; Lin, 2001). Secara umum, kapitalis bercirikan individu yang menjadi pemilik bagi apa yang dihasilkannya, dan orang lain tidak punya hak. Ia berhak untuk memonopoli semua alat produk yang dapat dicapainya dengan usahanya sendiri, berhak untuk tidak mengeluarkannya, kecuali dengan jalan yang memberi keuntungan padanya.
Masyarakat kapitalis menurut Marx terbagi menjadi dua kelas yakni kelas borjuis dan proletar. Kelas borjuis menguasai sumber-sumber kekayaan dan bertindak sekehendak hatinya, serta tidak mempergunakannya kecuali untuk kepentingan pribadinya. Sehingga kepentingan masyarakat dikorbankan demi untuk menambah kekayaan. Maka orang-orang proletar tidak lagi punya kesempatan untuk memperoleh sumber-sumber kekayaan kecuali hanya untuk memperoleh kebutuhannya, demi kelanjutan hidup. Sumber kekayaan ini di eksploitasi oleh kaum borjuis, sehingga menciptakan kapitalisme. Dalam kapitalisme ini, buruh dapat dilihat sebagai sumber nilai guna dan juga nilai tukar.
Berbeda dengan pandangan Pierre Bourdieu. Bourdieu berpendapat bahwa kapital tidak hanya bersifat kebendaan (material), tetapi juga hal-hal yang immaterial, seperti hubungan kekuasaan, sosial, dan posisi. Kapital adalah sumber daya yang mempunyai nilai tertentu yang dimiliki oleh seseorang agar dapat bertahan dalam suatu arena. Setiap arena menuntut individu untuk mempunyai kapital khusus agar hidup baik dan bertahan di dalamnya.
Kapital menurut Bourdieu juga memiliki arti yang luas, mencakup hal material dan immaterial yang dapat memiliki nilai simbolik secara kultural. Misalnya prestise, status dan otoritas yang merujuk sebagai kapital simbolik. Kapital ini harus berada di dalam sebuah ranah.  Karena dalam rumusan generatif Bourdieu, ada keterkaitan antara habitus, kapital dan juga ranah yang bersifat langsung. Dimana nilai yang diberikan pada kapital dihubungkan dengan berbagai karakteristik sosial dan habitus.

(Habitus x Kapital) + Ranah = Praktik

Dicontohkan bahwa kapital ini dapat digunakan dalam hal kekuasaan sebagai kapital simbolik untuk mewakili pendapat umum dan mencoba mempresentasikan ke dalam dunia sosial. Pada akhirnya akan memberikan sebuah identitas yang resmi.
Ada perbedaan dengan konsep kapital-nya Marxian yang cenderung bersifat materialistik dan determinasi ekonomi yang kemudian menerbitkan pertentangan kelas, Bourdieu tidak membatasi kapital pada ekonomi. Bourdieu  dalam  bukunya  The  Form  of  Capital (1986),  membagi  3  kapital,  yaitu:  kapital  ekonomi yang  secara  langsung  dapat  ditukar  menjadi  uang dan  terinstitusionalisasi  dalam  bentuk  hak kepemilikan barang; (2) kapital budaya, yang dalam kondisi  tertentu  dapat  ditukar  menjadi  kapital ekonomi dan terinstitusi kedalam bentuk kualifikasi pendidikan;  (3)  kapital  sosial   yang  kemudian membentuk ikatan sosial. Tiga  kapital  Bourdieu  kemudian  dikembangkan oleh  Jonathan  S.  Turner  dengan menambahkan satu tipe kapital, yaitu kapital simbolik.




Gaya hidup masyarakat
Jakarta sebagai Ibukota yang merupakan kota metropolitan, mengalami perkembangan pola dan gaya hidup yang berimplikasi kepada setiap kelas sosial. Gaya hidup disini adalah sebuah penampilan luar seorang individu ataupun kelompok manusia dalam usahanya mengaktualisasikan diri dalam lingkungan bermasyarakat. Konteks gaya hidup menyangkut kepada hal-hal yang bersifat terindera dan memiliki wujud nyata dan cenderung bersifat kebendaan. Benda-benda tersebut dapat dijadikan simbol yang erat kaitannya dengan kebutuhan individu untuk mengaktualisasikan dirinya dalam lingkup sosialnya. Ketika benda tersebut dianggap sebagai benda yang sesuai dengan kebutuhannya baik secara fungsi dan nilai sosial, maka individu ini akan mengkonsumsinya sebagai sebuah prestise dan sebagai gaya hidupnya. Hal inilah yang memicu adanya gaya hedonisme dalam masyarakat Jakarta.
            Hedonisme masyarakat Jakarta dapat dikatakan sebagai efek dari sifat konsumtif. Namun konsumsi yang dilakukan disini bukan lagi sekedar kegiatan yang berasal dari produksi. Konsumsi tidak lagi menjadi kegiatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dan fungsional individu atau kelompok. Dapat dikatakan bahwa konsumsi yang dilakukan masyarakat Jakarta sudah menjadi gaya hidup.
            Konsumsi yang dilakukan sebagai proses objektif, yaitu proses eksternalisasi atau internalisasi diri lewat objek-objek sebagai medianya.[3] Maksudnya bagaimana kita memahami dan mengkonseptualisasikan diri maupun realitas di sekitar kita melalui objek-objek material. Disini terjadi proses menciptakan nilai-nilai melalui objek-objek dan kemudian memberikan pengakuan serta penginternalisasian nilai-nilai tersebut.
Tanda-tanda pada objek konsumsi pada kenyataannya justru cenderung digunakan untuk menandai relasi-relasi sosial. Saat ini objek konsumsi mampu menentukan prestise, status dan simbol-simbol sosial tertentu bagi pemakainya. Hal ini mencerminkan sejauhmana daya kapital masyarakat Jakarta terbentuk. Dimana individu cenderung menilai dan mengenali individu lain dari penampilan luarnya, apa yang dikenakan dan asseoris yang dimilikinya, mulai dari pakaian, tas, sepatu, kacamata, dan sebagainya.
Tentu tidak hanya itu, merek pun diperhatikan dalam hal menilainya. Barang-barang bermerek menunjukkan nilai sosial yang tinggi, dan menunjukkan dimana individu ini memiliki kelas sosialnya. Pakaian misalnya, kesan pertama yang dapat ditangkap dari individu pada saat berinteraksi tatap muka adalah citra yang dipantulkan oleh pakaian yang dikenakan pada saat itu. Melalui pakaian, orang lain mencoba memahami identitas seseorang.    
            Bagi masyarakat konsumen yang ada di Jakarta, saat ini hampir tidak ada ruang dan waktu yang tersisa untuk menghindari diri dari serbuan berbagai informasi yang berurusan dengan kegiatan konsumsi. Di rumah, di kantor atau di kampus, tidak berhenti disodori akan berbagai informasi yang menstimulasi konsumsi melalui iklan di televisi, koran maupun majalah-majalah. Di jalan, selain terus melewati pertokoan dan pusat perbelanjaan, masyarakat juga terus dihadapkan dengan pemandangan attraktif dari promosi media luar ruang yang menghiasi jalan-jalan dan berbagai sudut strategis kota. Iklan atau promosi dijadikan penarik yang ampuh bagi kapitalis, agar masyarakat memilih prodak mereka.
             Dapat dikatakan bahwa investor asing mudah masuk di dalam kegiatan konsumsi di Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan adanya iklan-iklan dan promosi yang terdapat di televisi, koran dan majalah. Di dalam pertokoan dan pusat perbelanjaan pun terdapat para investor yang menguasainya. Investor lebih memilih menginvestasikan modal mereka di Jakarta, karena mereka cenderung menilai masyarakat Jakarta memiliki tingkat konsumsi yang tinggi. Tidak hanya itu, para investor asing mudah untuk masuk karena memang peraturan di Indonesia yang memudahkan mereka untuk menanamkan modal yang mereka miliki ke Indonesia.

Kelas sosial
            Dalam masyarakat terlebih di Jakarta, terdapat jenjang (stratifikasi sosial) yang merupakan penggolongan seseorang sesuai dengan status sosialnya. Penggolongan tersebut apabila didasari oleh kriteria ekonomi disebut kelas sosial. Kelas sosial ini terbagi atas kelas sosial atas, menengah, dan bawah. Pada umumnya istilah kelas sosial lebih menunjukkan pada kelompok kelas sosial atas. Mereka merupakan golongan orang-orang yang kaya dan bergengsi.
            Mereka bangga dengan status sosial yang disandangnya. Semakin tinggi kelas sosialnya, maka semakin tinggi pula prestise (gengsi) yang dimilikinya. Oleh karena itu, mereka membentuk ciri tertentu agar tampak berbeda dengan kelas sosial yang lain. Ciri tersebut merupakan kebanggaan bagi pemiliknya. Ciri-ciri inilah yang dapat menunjukkan kelas sosial yang disebut simbol status.
Ada beberapa simbol yang dapat menunjukkan mereka memiliki kelas sosial yang tinggi, seperti tempat tinggal, kegemaran, kekayaan, dan pakaian. Kelas sosial atas biasanya tinggal di perumahan elite yang mewah dan memiliki prestise tinggi. Perumahan mewah dengan fasilitasnya akan memberikan kebanggan bagi pemiliknya. Pada simbol kegemaran, bisanya kelas sosial atas memiliki kegiatan yang memerlukan biaya besar, seperti shopping ke luar negeri, olahraga golf dan sebagainya. Kegemaran ini menunjukkan prestise pada mereka yang memiliki kelas sosial atas. Lain halnya dengan simbol kekayaan. Pada simbol kekayaan, yang sering ditonjolkan seperti mobil mewah, perhiasan dan sebagainya. Sama dengan simbol pakaian. Kelas sosial atas biasanya memiliki pakaian yang bagus dan mahal. Mereka bangga mengenakan pakaian produksi luar negeri seperti baju buatan Italian, parfum dari Perancis dan sebagainya.
Hal di atas menunjukkan bahwa simbol mempengaruhi status sosial seseorang. Tidak hanya itu, pola dan gaya hidup seseorang pun dapat berpengaruh terhadap status atau kelas sosial. Terdapat prestise di dalam simbol-simbol tersebut. Implikasi dari simbol tersebut, muncullah ranah baru bagi kaum sosialita. Mereka rela menggelontorkan biaya yang tak sedikit demi sebuah penampilan yang menunjang prestise. Busana, tas, sepatu, jam tangan, kacamata, stelan perhiasan, hingga parfum pun dibuat serasi, bahkan lebih memilih band-brand luar negeri.
Kaum sosialita ini biasanya memiliki pola konsumtif dan memiliki gaya hidup dengan menonjolkan penampilannya. Hal ini dapat mencerminkan adanya sindrom kapitalis yang cenderung menjatuhkan kelas sosial bawah. Kelas sosial bawah semakin terpuruk akan keadaannya, sedangkan kelas sosial atas seperti kaum sosialita semakin meningkat dengan kekayaan, pola dan gaya hidupnya. Dapat disimpulkan bahwa pada masyaraka Jakarta, terdapat kapital simbolik yang menunjukkan prestise dan kelas sosialnya.

Hubungan dengan kapital sosial dan kapital budaya
            Saat ini dapat dilihat bahwa masyarakat Jakarta memiliki kapital simbolik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berkembangnya pola dan gaya hidup yang menimbulkan prestise di masyarakat, dapat ditandai dengan adanya simbol-simbol yang menunjukkan kelas sosial mereka. Menurut Bourdieu,[4] kapital simbolik merupakan suatu bentuk kapital ekonomi fisikal yang telah mengalami transformasi dan karenannya telah tersamarkan, menghasilkan efeknya yang tepat, menyembunyikan fakta bahwa ia tampil dalam bentuk- bentuk kapital material yang pada hakikatnya bersumber dari efek-efek itu sendiri.
            Bourdieu beranggapan bahwa, kapital simbolik memiliki makna atau status pengakuan yang dapat diwujudkan dalam bentuk yang objektif maupun institusi seperti penghargaan atau anugerah yang diraih karena prestasinya. Kapital simbolik ini berkaitan dengan  penggunaan simbolik sebagai legitimasi atau pengabsahan posisi individu/kelompok  dalam level tertentu dan pada konfigurasi dari bentuk kapital lainnya. Dengan kata lain, kapital simbolik ini adalah modal yang berkaitan dengan simbol-simbol yang diterima atau dimiliki seseorang dalam hidupnya. Simbol yang menunjukkan bagaimana seseorang mendapatkan penerimaan dan perlakuan dari individu lain dan masyarakat di sekitarnya. Kapital simbolik ini tidak bersifat wujud fisik yang tampak secara nyata sehingga tak bisa diukur kekuatannya, namun lebih berupa pengakuan secara umum oleh sekelompok masyarakat dalam wilayah tertentu.
            Kapital  ini  juga memerlukan proses sosial yang bergantung pada pengakuan publik berdasarkan ukuran tertentu, seperti status, prestise, dan kemampuan. Kapital simbolik dapat ditunjukkan dengan simbol seperti tempat tinggal, kegemaran, kekayaan, dan pakaian. Dapat disumpulkan bahwa kapital simbolik merupakan kapital yang terwujud dalam prestise, status, otoritas dan kehormatan sosial, yang berasal dari keterampilan mengatur simbol sosial. Oleh sebab itu, kapital simbolik dapat memproduksi kekuasaan simbolik dan  juga kekerasan simbolik.
            Bourdieu melihat kapital simbolik, seperti, harga diri, dan martabat, merupakan sumber kekuasaan yang krusial. Kapital simbolik adalah setiap spesis modal yang dipandang melalui skema klasifikasi, yang ditanamkan secara sosial. Ketika pemilik kapital simbolik menggunakan kekuatannya, ini akan berhadapan dengan agen yang memiliki kekuatan lebih lemah, dan karena itu si agen berusaha mengubah tindakan-tindakannya. Maka, hal ini menunjukkan terjadinya kekerasan simbolik (symbolic violence). Namun kapital simbolik ini tidak  akan  maksimal  jika  tidak didukung  dengan  kapital  lain, seperti  kapital sosial dan budaya.
Kapital sosial adalah kumpulan sejumlah sumberdaya, baik secara aktual  maupun potensial yang terhubung dengan jaringan atau relasi sosial. Kapital sosial menentukan suatu posisi atau relasi dalam suatu kelompok serta jaringan-jaringan sosial. Kapital ini mempunyai serangkaian nilai/norma informal yang dimiliki  bersama  yang  memungkinkan  terjadinya kerjasama diantara anggota kelompok.
Menurut Bourdieu (1986), mendefinisikan kapital sosial sebagai sumber daya actual dan potensial yang dimiliki seseorang berasal dari jaringan sosail yang terlembaga serta langsung terus menerus dalam bentuk pengakuan dan perkenalan timbale balik (dengan kata lain, keanggotaan dalam kelompok sosial) yang memberikan kepada anggotanya berbegai bentuk dukungan kolektif.
            Sedangkan kapital budaya adalah nilai-nilai yang bisa dipertukarkan, yang merkapan akumulasi bentuk kultur yang berkembang dalam dunia sosial. Kapital ini menurut Bouedieu dianggap kurang rasional jika dibandingkan dengan kapital lain. Akan tetapi kapital budaya pada satu posisi akan menjadi penting. Karena kapital budaya merupakan bentuk keterampilan informal yang bersifat interpersonal, adat istiadat, kelakuan, gaya bertutur (bahasa/dialek), tingkat pendidikan, selera dan gaya hidup. Kapital  budaya ini tidak bersifat tunggal, tetapi selalu eksis dalam tiga bentuk,  yaitu bentuk yang menyatu dalam diri seseorang, menjelma dalam bentuk objektif  (objectified state) seperti buku, perkakas rumah tangga, dan terinstitusi, seperti kualifikasi akademik.
            Dalam  praktik  sosialnya,  semua  kapital  ini  saling terkait atau konversi antar kapital. Konversi antar kapital ini memungkinkan terjadinya perubahan atau pertukaran, khususnya pada wilayah dominan. Konversi antar kapital ini hanya pada batasan tertentu.
Kapital  sosial,  budaya,  simbolik  tidak  bisa  direduksi dalam  kapital  ekonomi  semata,  karena  setiap  bentuk  memiliki  spesifikasi  masing-masing.  Akan  tetapi  pada akhirnya  kapital  ekonomi  memang  menjadi  akar  dari semuanya.  Dengan  kata  lain  setiap  kapital  akan mengalami  transformasi  atau konversi dari satu bentuk ke dalam bentuk lainnya. Transformasi dan konversi  kapital  ini  tidak  bersifat otomatis,  tetapi  memerlukan elaborasi usaha dari sang agen (individu/kelompok), dan  terkadang hasilnya dapat terasa dalam jangka panjang.
Hubungan antara kapital sosial, budaya dan simbolik dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel 1:
Hubungan antara Kapital Ekonomi Sosial, Budaya dan Simbolis
Menurut Bourdieu[5]

Jenis Kapital
Perbedaan
Persamaan
Ekonomi
Langsung menjadi uang
Uang
Sosial
Tidak langsung menjadi uang. Perlu kondisi tertentu. Kewajiban sosial, koneksi.
Menjadi uang melalui pembentukan kapital ekonomi.
Budaya
Tidak langsung menjadi uang. Perlu kondisi tertentu. Ijazah, sertifikat dan lainnya.
Menjadi uang melalui pembentukan kapital ekonomi.
Simbolik
Tidak langsung menjadi uang. Perlu kondisi tertentu. Keterampilan mengatur simbol.
Menjadi uang melalui pembentukan kapital ekonomi.


Penutup
Struktur sosial masyarakat Jakarta memiliki sifat yang unik, yaitu secara horizontal dan vertikal. Tetapi cenderung lebih terlihat secara vertikal, yang ditandai oleh adanya perbedaan antara lapisan atas dan bawah yang cukup tajam. Hal ini menimbulkan sebuah identitas yang khas.  Identitas disini berhubungan dengan adanya kepemilikan kapital. Kapital dapat dikatakan sebagai salah satu faktor untuk menentukan karakteristik seorang individu, hal ini dengan jelas menjadi salah satu cara untuk seseorang menunjukkan identitasnya.
Bourdieu berpendapat bahwa kapital tidak hanya bersifat kebendaan (material), tetapi juga hal-hal yang immaterial, seperti hubungan kekuasaan, sosial, dan posisi. Kapital adalah sumber daya yang mempunyai nilai tertentu yang dimiliki oleh seseorang agar dapat bertahan dalam suatu arena. Misalnya prestise, status dan otoritas yang merujuk sebagai kapital simbolik.
Jakarta sebagai kota metropolitan, mengalami perkembangan pola dan gaya hidup yang berimplikasi kepada setiap kelas sosial. Gaya hidup yang berhubungan dengan indera dan cenderung bersifat kebendaan. Benda-benda tersebut dapat dijadikan simbol yang erat kaitannya dengan kebutuhan individu untuk mengaktualisasikan dirinya dalam lingkup sosialnya. Hal inilah yang memicu adanya gaya hidup hedonisme dalam masyarakat Jakarta.
Masyarakat Jakarta memiliki struktur sosial yang cenderung digolongkan dalam hal kriteria ekonomi yaitu kelas sosial. Adanya kelas sosial membentuk ciri tertentu agar tampak berbeda dengan kelas sosial yang lain. Ciri-ciri inilah yang disebut simbol status. Ada beberapa simbol yang dapat menunjukkan mereka memiliki kelas sosial yang tinggi, seperti tempat tinggal, kegemaran, kekayaan, dan pakaian. Simbol-simbol di atas, dapat dijadikan kapital simbolik. Bagi Bourdieu, kapital simbolik memiliki makna atau status pengakuan yang dapat diwujudkan dalam bentuk yang objektif maupun institusi seperti penghargaan atau anugerah yang diraih karena prestasinya. Kapital ini juga memerlukan proses sosial yang bergantung pada pengakuan publik berdasarkan ukuran  tertentu, seperti status, prestise, dan kemampuan.
Namun kapital simbolik ini tidak  akan  maksimal  jika  tidak didukung  dengan  kapital  lain, seperti  kapital sosial dan budaya. Dalam  praktik  sosialnya,  semua  kapital ini saling terkait atau konversi antar kapital. Konversi antar kapital ini memungkinkan terjadinya perubahan atau pertukaran, khususnya pada wilayah dominan. Dari kapital yang ada, pada akhirnya kapital simboliklah yang menentukan peran dan status sosial dari agen (individu/kelompok) dalam struktur sosial.



Daftar Referensi
Damsar. 2011. Sosiologi Ekonomi. (Ed. Revisi). Jakarta: Kencana.
George Ritzer. 2012. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nasikun. 1995. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.
Peter L. Berger. 1990. Revolusi Kaptalis. (terj). Jakarta: LP3ES
Pierre Bourdieu. 1977. Outline of a Theory of Practice. London: Cambridge University Press.
Pierre Bourdieu. 1986. “The Forms of Capital” dalam Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education, John G. Richardso. New York: Greenword Press.
Robert M.Z. Lawang. 2004. Kapital Sosial dalam Perspektif Sosiologik Suatu Pengantar. Depok: FISIP UI Press.
Yasraf Amir Piliang. 2004. Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaaan. Yogyakarta: Jalasutra.


[1] Nasikun. 1995. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: Rajawali Press. Hal: 30
[2] Peter L. Berger. 1990. Revolusi Kaptalis. (terj). Jakarta: LP3ES. Hal: 20
[3]  Yasraf Amir Piliang. 2004. Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaaan. Yogyakarta: Jalasutra. Hal : 180
[4] Pierre Bourdieu, Pierre. Outline of a Theory of Practice. London: Cambridge University Press. Hal: 183
[5] Robert M.Z. Lawang. 2004. Kapital Sosial dalam Perspektif Sosiologik: Suatu Pengantar. Depok: FISIP UI Press. Hal: 19